Kesantunan & Jurnalis Amatir

Opini8 Dilihat

For modesty has always to deal with generosity: Karena kesopanan selalu bersumber dari kemurahan hati (Antoine Rivarol-Wartawan Perancis).

Seorang pemimpin regional, “menyembelih” lehernya dengan lidahnya. Negeri ini geger. Sang Algojo menebus risikonya di balik jeruji besi.

Untung saja, angin politik masih memihakinya. Kini dia kembali berkuasa. Toh, ketajaman lidahnya tidak berubah. Tuhan kembali mengujinya.

Sebagian ambisius beranggapan: kecerdasan adalah segalanya. So, lidahnya menerjemahkan isi otaknya bagai bebas hambatan.

Sekali kesandung? Baru ingat pepatah lama’:
“Jika keangkuhanmu melebihi prestasimu..biasanya orang akan meninggalkanmu…”

Aku pernah terperangah dengan hasil peneltian Pakar Sosiolinguistik yang menyebut:

“Bahasa apa pun yang dipakai seseorang, untuk menyampaikan pesan, bahasa itu dilengkapi seperangkat kosa kata kesopanan”.

Lantas, hujatan barangkali hanya lahir dari kondisi pikiran. Medsos: facebook, youtube, washap, tweeter dsb., sederet medium yang kita saksikan sebagai ajang klaim kebenaran masing-masing.

Agamawan menghujat aganawan. Politisi menghujat politisi. Pakar mengujat Aktivis. Dan sebailknya. Dan sebaliknya…

Saling hujat tidak lagi di antara beda agama dan beda organisasi. Justru mengerucut ke beda aqidah dan faham. Selebihnya soal kepentingan.

Ironisnya, banyak pula yang menangguk rezeki dari riak hujatan itu. Dari situasi ini lahir industri baru. Seterusnya jadi sumber nafkah.

Dunia saya adalah profesi jurnalisme. Distorsi ethik ini sudah lama juga merasuki para Serdadu Pena. Padahal, ada seperangkat alat ukur bagi tugas seorang wartawan: Kode Ethik Jurnalistik.

Para Wartawan yang masih perlu meningkatkan nilai amatir (rasa cinta) profesi sering terjebak memaksakan kehendak dalam bertugas.

Ketika dia tertolak oleh narasumber untuk meliput, karena komunikasi dan strateginya yang buruk, arogansi wartawan akan muncul dengan kedok berlindung dibawah Pasal 18 UU Pers. Seolah-olah dia dihalang-halangi dalam bertugas..

Menjalankan profesi mulya ini tidak sesederhana itu, Kawan. Belajar lebih dalam. Tingkatkan kadar cinta Anda pada profesi ini agar Anda tidak diklaim sebagai: Wartawan Cengeng….

“Hanya yang lembut mampu menembus yang keras,” kata Asmaraman S Kho Ping Ho. Sebuah bukti bahwa kesantunan melebihi segalanya.

Kesantunan hanya muncul dari suasana hati. Bersumber dari kerendahan hati. Kesantunan adalah nadi dari komunikasi setiap aktivitas. Jembatan meraih sukses.

Upayakan selalu santun dalam bersikap.
Jika tidak, lebih baik kita diam.

By : Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *